Minggu, 19 Mei 2013

MUNASABAH AL-QUR’AN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Munasabah adalah kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu dalam  Al-qur’an baik padak surat maupun pada ayat-ayatnya yang menghubungkan antara uraian yang satu dengan yang lainnya  atau kepantasan dan keserasian antara ayat dengan ayat atau surat degan surat. Munasabat berupaya menangkap korelasi satu uraian dalam Al-Qur’an yang diperkuat maknanya oleh uraian yang lain sehingga nampak seperti bangunan yang setiap bagiannya menopang bagiannya yang lain.
            Munasabat merupakan suatu ilmu yang mulia. Namun,karena terlalu rumit, sedikit sekali ulama yang menguasai ilmu ini. Di antara ulama yang banyak berbicara tentangnya adalah Imam Fakhruddin.
            Syaikh Izzuddin bin Abd Al- Salam berkata: “ munasabat harus terjadi pada dua atau beberapa uraian yang memiliki kesamaan tema mulai dari awal sampai akhir. Bila uraian-uraian itu memilki tema yang berbeda, maka tidak terdapat munasabat di dalamnya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian munasabat?
2.      Bagaimana cara mengetahui adanya munasabat antara ayat atau antar surat?
3.      Mengapa ilmu munasabat tidak kalah pentingnya dengan mengetahui Asbabun Nuzul ayat?
4.      Apa saja dasar-dasar pemikiran adanya munasabat?
5.      Sebutkan ayat-ayat atau surat yang sulit di temukan sisi munasabatnya?
C.     TUJUAN MASALAH
            Penulisan ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai:
1.      Pengertian tentang munasabat Al-quran;
2.      Dasar-dasar pemikiran adanya munasat Al-qur’an;
3.      Pembagian atau macam-macam munasabat Al-qur’an;
4.      Ayat-ayat dan surat-surat yang sulit di temukan sisi munasabatnya;

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN MUNASABAH
 Kata munasabah berasal dari kata (نَا سَبَ)naasaba, (يُنَاسِبُ)yunaasibu,مُنَاسَبَةٌ)munaasabatan. Kata tersebut merupakan bentuk tsulasi mujarotnya(نَسَبَ) nasaba yang berarti hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Munasbah berarti(مُقَارَبَةً)  muqorrobah atau kedekatan dan kemiripan. Hal ini tentunya bias terjadi antara dua hal atau lebih, sedangkan kemiripan tersebut dapat terjadi pada seluruh unsur-unsurnya dapat juga terjadi pada sebagaiannya saja.
             Dengan demikian munasabah menurut istilah adalah adanya kecocokan, kepantasan dan keserasian antara ayat dengan ayat atau surat degan surat, atau Munasabah adalah kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu dalam  Al-qur’an baik padak surat maupun pada ayat-ayatnya yang menghubungkan antara uraian yang satu dengan yang lainnya.[1]
B.  DASAR-DASAR PEMIKIRAN  ADANYA MUNASABAH DI ANTARA AYAT-AYAT    ATAU SURAT-SURAT AL-QUR’AN

        Asy-Syatibi menjelaskan bahwa satu surat, walaupun dapat mengandung banyak masalah, namun masalah-masalahtersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya mengarahkan pandangan pada awal surat, tetapi hendaknya memperhatikan pula akhir surat, atau sebaliknya.
      Mengenai hubungan antara suatu ayat/atau surat denga ayat/surat lain (sebelum atau sesudah), tidaklah kalah pentingnya dengan mengetahui sebab nuzul ayat. Sebab mengetahui adanya hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan. Ilmu A-qur’an mengenai masalah ini disebut:
عِلْمُ تَنَا سُبِ اْلا يَا تِ وَا لسُّوَ رِ
Ilmu ini dapat mengganti ilmu Asbabun Nuzul, apabila kita dapat mengetahui sebab turunnya suatu ayat,tetapi kita bisa mengetahui adanya relevansi ayat itu dengan ayat lainnya.seorang ulama bernama Burhanuddin Al-Biqa’I menyusun kitab yang sangat dalam ilmu ini, yang diberi nama:
نَظْمُ ا لدُّ رَ رِ فِى تَنَا سُبِ اْلا يَا تِ وَ ا لسُّوَ رِ
      Ada yang berpendapat bahwa setiap ayat/surat selalu ada relevansinya dengan ayat/surat lain.
      Mengingat pentingnya ilmu ini, ada beberapa penjelasan-penjelasan sebagai berikut:
1.      Abu Bakar Al-Naisaburi (wafat tahun 324 H) adalah ulama yang pertama-tama memperkenalkan:
2.      عِلْمُ تَنَا سُبِ اْلا يَا تِ وَا لسُّوَ ر
Di Baghdad Iraq, Ia mencela mengkritik ulama Baghdad karena mereka tidak tahu adanya relevansi antara ayat-ayat dan antara surat-surat. Ia selalu berkata (apabila dibacakan kepadanya suatu ayat/suatu surat:
لِمَ جُعِلَتْ هَذِهِ اْلأَىَةُ اِلَى جَنْبِ هَذِهِ ؟ وَمَا الْحِكْمَةُ فِى جَعْلِ هَذِهِ اِلَى جَنْبِ هَذِهِ السُّوْرَةِ ؟                               
Artinya:“ mengapa ayat ini dibuat (diletakkan) di dekat ayat itu? Dan apa hikmahnya membuat/meletakkan surat ini dekat dengan surat itu?”
3.      Muhammad  ‘Izah Daruzah menyatakan, bahwa semula orang mengira tidak ada hubungan antara satu ayat/surat dengan ayat/surat lain. Tetapi sebenarnya ternyata bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lain.[2]
4.      Dr. shubhi Al-shalih dalam kitabnya:         
          مَبَا حِثُ فِى عُلُوْمِ الْقُرْأنْ                                        
Bahwa hubungan antara satu surat dengan surat yang lain adalah sesuatu yang sulit dan sesuatu yang dicari-cari tanpa adanya pedoman/ petunjuk, kecuali hanya didasarkan atas tertib surat-surat yang taufiqi itu.
Kriteria ukuran untuk menetapkan ada atau tidaknya munasabah (relevansi) antara ayat-ayat dan antara surat-surat adalah tamastul/tasyabuh, antara maudhu’-maudhu’nya. Maka apabila ayat-ayat/surat-surat itu mengenai  hal-hal yang ada kesamaan yang berhubungan ayat-ayat pemulaannya dengan ayat-ayat penghabisannya maka terdapatlah munasabah ayat-ayat atau surat-surat secara logis dan dapat diterima. Dan apabila mengenai ayat-ayat/surat-surat yang berbeda-beda sebab turunnya dan tentang hal-hal yang tidak sama/serupa, maka sudah tentu tidak ada munasabah antara ayat-ayat atau surat-surat itu. Dengan criteria tersebut, maka dapat dibayangkan bahwa letak atu titik persesuaian (munasabah) antara ayat-ayat dan antara surat-surat itu kadang-kadang tampak jelas dan kadang-kadand tidak tampak, dan bahwa jelasnya letak munasabah antara ayat-ayat itu sedikit kemungkinannya, sebaliknya terlihatnya dengan jelas letak munasabah antara surat-surat itu jarang sekali kemungkinannya. Dan hal ini disebabkan karena pembicaraan mengenai suatu hal jarang bisa sempurna hanya dengan satu ayat saja. Karena itu berturut-turut beberapa ayat mengenai satu maudhu’:
تَوْكِىْدًا وَتَفْسِىْرًا
Untuk mengatakan dan menerangkan
عَطْفًا وَبَىَانًا

Atau untuk menghubungkan dan member penjelasan
وَحَصْرًا إِسْتِثْنَاءً
Atau untuk mengecualikan dan mengkhususkan
إِعْتِرَاضًا وَتَذْبِىْلًا
Atau untuk menengahi dan mengakhiri pembicaraan
Sehingga ayat-ayat yang beriring-iringan itu merupakan satu kelompok ayat yang sebanding dan serupa.[3]

C.    PEMBAGIAN MUNASABAH
Munasabah dibagi menjadi  7 macam, yaitu:
1.      Antara surat dengan surat sebelumnya;
2.      Antara ayat dengan ayat;
3.      Kalimat demi kalimat dalam ayat;
4.      Penutup ayat  (fashilah) dengan kandungan ayatnya;
5.      Awal uraian surat dengan akhir uraiannya;
6.      Penutup surat terdahulu dengan awal uraian surat berikutnya.
Dalam membahas ketujuh macam munasabah trsebut, di sini akan dikemukakan secara berurutan, yaitu:
1.      Antara surat  dengan surat sebelumnya
Contoh, antara Q.S. Quraisy: 1-4 dan Al-ma’un: 1-7 sebagai berikut:
 É#»n=ƒ\} C·÷ƒtè% ÇÊÈ   öNÎgÏÿ»s9¾Î) s's#ômÍ Ïä!$tGÏe±9$# É#ø¢Á9$#ur ÇËÈ   (#rßç6÷èuù=sù ¡>u #x»yd ÏMøt7ø9$# ÇÌÈ   üÏ%©!$# OßgyJyèôÛr& `ÏiB 8íqã_ NßgoYtB#uäur ô`ÏiB ¤$öqyz ÇÍÈ

“karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (ka’bah). Yang telah member makanan kepada mereka untuk menghilanhkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Q.S. Quraisy: 1-4).
|M÷ƒuäur& Ï%©!$# Ü>Éjs3ムÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ   šÏ9ºxsù Ï%©!$# íßtƒ zOŠÏKuŠø9$# ÇËÈ   Ÿwur Ùçts 4n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ   ×@÷ƒuqsù šú,Íj#|ÁßJù=Ïj9 ÇÍÈ   tûïÏ%©!$# öNèd `tã öNÍkÍEŸx|¹ tbqèd$y ÇÎÈ   tûïÏ%©!$# öNèd šcrâä!#tãƒ ÇÏÈ   tbqãèuZôJtƒur tbqãã$yJø9$# ÇÐÈ  

“tahukah kamu (orang) yang endustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan member makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (Q.S. Al-ma’un: 1-7).
            Hubungan antara du surat tersebut adalah: Quraisy, Allah membebaskan manusia dari kelaparan, sedangka dalam surat Al-ma’un, Allah mencela orang yang tidak menganjurkan dan tidak memberi makan orang miskin.
a.       Dalam surat Quraisy, Allah  membebaskan manusia dari kelaparan, sedangkan dalam surat Al-ma’un Allah mencela orang yang tidak menganjurkan dan dan tidak memberi makan orang miskin.
b.      Dalam surat Al-qurays, Allah memeperintahkan agar manusia menyembahnya, sedangkan dalam  surat Al-ma’un Allah mencela orang yang shalat dengan lalai dan riya.[4]

2.      Hubungan antara ayat dengan ayat
Hubungan ayat-ayat Al-qur’an ada dua cara yang di tempuh:
a.       Menghubungkan kalimat-kalimat terdahulu dengan kalimat dan atau akhir kalimat pada suatu ayat dengan awal kalimat ayat berikutnya.
b.      Menghubungkan masalah yang di bahas ayat terdahulu dengan masalah pada ayat kemudian; masalah-masalah tersebut dapat berupa hasil penglompokan beberapa ayat.
Contoh,ayat dengan ayat, Q.S. Al-ghasiyah:17-20 sebagai berikut:

Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ n<Î) È@Î/M}$# y#øŸ2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ   n<Î)ur Ïä!$uK¡¡9$# y#øŸ2 ôMyèÏùâ ÇÊÑÈ   n<Î)ur ÉA$t6Ågø:$# y#øx. ôMt6ÅÁçR ÇÊÒÈ   n<Î)ur ÇÚöF{$# y#øx. ôMysÏÜß ÇËÉÈ  


“maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia dikerjakan , Dan langit, bagaimana ia di tinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia di tegakkan ? Dan bumi bagaimana ia di hamparkan?” (Q.S. Al-ghasiyah:17-20).
           
Dalam ayat-ayat di atas terdapat unta, langit, gunung dan bumi. Perlu di katahui bahwa ayat-ayat tersebut menggambarkan masyarakat Arab Badui primitive yang hidup nya berpindah-pindah binatang unta bagi orang-orang Badui yang primitive itu merupakan binatang yang sangat vital, dan kehidupan mereka adalah bergantung dari unta-unta tersebut. Unta-unta perlu di gembala agar mendapatkan makan dan minum. Makanan nya berupa rerumputan , menjadi subur perlu ada hujan; begitu juga dengan minum nya. Hal ini lah yang menyebabkan mereka menengadah ke langit agar turun hujan. Sedangkan agar mereka tidak kehujanan dan kepanasan, mereka membutuhkan tempat berteduh dan berlindung agar nyaman, yaitu di gunung-gunung. Mereka berpindah dari satu gunung ke gunung yang lain sesuai dengan keperluannya maka urutan dari unta, langit, gunung dan bumi harus urut seperti disebutkan dalam ayat tersebut.[5]
3.      Kalimat demi kalimat dalam suatu ayat
al baiqa’I berpendapat bahwa semua ayat Al-qur’an, bahkan kalimat demi kalimat mempunyai hubungan yang sangat erat. Beliau berkata: “sampai-sampai terkadang saya berpikir berbulan-bulan untuk menemukannya dan setelah saya kemukakan hubungan tersebut para ulama’ mengakui dan mengaguminya”. Abu su’ud menegaskan bahwa hubungan-hubungan tersebut idak mutlak harus ada pada setiap ayat.
Contoh, adalah fiman Allah Q.S. Al- baqarah:24 sebagai berikut:
bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÅsø9$#ur ( ôN£Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ  
“maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (Q.S. Al-baqarah:24).

            Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak mampu melayani tantangan dalam ayat tersebut, karena mereka sadar bahwa Al-qur’an bersumber dari Allah, dan susunan bahasa maupun keserasian makna nya sangat mengagungkan sehinngga sebenarnya dalam hati mereka merasa yakin, tetapi lidah mereka menolak.
Jadi kalimat(لَمْ تَفْعَلُوا)  lamtaf’alu diperkuat oleh kalimat(وَلَنْ تَفْعَلُوا)  walan taf’alu. Munasabah dalam ayat ini menegaskan adanya ta’kid (penguat) yang ditunjukkan k epada orang-orang yang ragu pada masa turunnya ayat ini sampai masalah datangnya hari akhir.Tantangan yang dikemukakan yag dikemukakan ayat ini sungguh mengagumkan, dan yang lebih mengagumkan lagi adalah kepastian tentang ketidakmampuan bagi siapapun untuk membuat smacamnya.[6]

4.      Penutup ayat (fashilah) dengan kandungannya
Pada dasarnya ada empat macam fashilah :
a.       Kandungan ayat mengharuskan adanya fashilah tersebut karena kalau  tidak, ia tidak memberi  arti yang  sempurna atau bisa menimbulkan kesalah  pahaman.
Contoh, firman Allah Q.S. Al-ahzab: 25 sebagai berikut:
¨Šuur ª!$# tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. öNÎgÏàøtóÎ/ óOs9 (#qä9$uZtƒ #ZŽöyz 4 s"x.ur ª!$# tûüÏZÏB÷sßJø9$# tA$tFÉ)ø9$# 4 šc%x.ur ª!$# $ƒÈqs% #YƒÍtã ÇËÎÈ  
“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh  keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa” (Q.S. Al-ahzab:25)
b.      Tambahan penjelasan, (biasanya untuk menyesuaikan dengan  fashilah ayat sebelumnya).
Contoh,firman Allah Q.S. Al-naml:80 sebagai berikut:
y7¨RÎ) Ÿw ßìÏJó¡è@ 4tAöqyJø9$# Ÿwur ßìÏJó¡è@ §MÁ9$# uä!%tæ$!$# #sŒÎ) (#öq©9ur tûï̍Î/ôãB ÇÑÉÈ  
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang” (Q.S. Al-naml:80).
Lafadz fashilah sudah disebutkan dari celah-celah redaksi ayat pada permulaan, pertengahan dan pada akhir redaksinya.
Contoh firman Allah Q.S. Thaha:61 sebagai berikut:
tA$s% Oßgs9 4ÓyqB öNä3n=÷ƒur Ÿw (#rçŽtIøÿs? n?tã «!$# $\/ÉŸ2 /ä3tGÅsó¡ãŠsù 5>#xyèÎ/ ( ôs%ur z>%s{ Ç`tB 3uŽtIøù$# ÇÏÊÈ  


“ berkata Musa kepada mereka: “ celakalah kamu, janganlah kamu mengada-ngadakan kedustaan terhadap Allah,  maka Dia membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-ngadakan kedustaan” (Q.S. Thaha:61).
c.       Arti kandungan fashilah telah disinggung dari celah-celah ayat.
Contoh, firman Allah Q.S. Yasin:37 sebagai berikut:
×ptƒ#uäur ãNßg©9 ã@ø©9$# ãn=ó¡nS çm÷ZÏB u$pk¨]9$# #sŒÎ*sù Nèd tbqßJÎ=ôàB ÇÌÐÈ  
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan  siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan” (Q.S. Yasin:37).

            Kalimatنَسْلَخُ مِن اانَّهَاَرَ  naslakhu minhu an-nahaaro (kami tanggalkan siang) telah mengandung pengertian bahwa(هُمْ مُظْلِمُوْنَ)  hum mudzlimun mereka berada dalam kegelapan.[7]

5.      Hubungan awal uraian surat dengan akhir uraiannya
Hubungan awal uraian surat dengan akhir uraiannya tidak harus ayat yang terakhir, namun bisa pada ayat bagian akhir. Seperti contoh dalam Q.S. Al- mukminun, ayat terakhir dari surat ini adalah ayat 118, dan munasabahnya ada pada Q.S. Al-mukminun:117 sebagai berikut:
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ  
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (Q.S.Al-mukminun:1).
4 ¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムtbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÊÊÐÈ  
“… sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”(Q.S. Al-mukminun:117).

Munasabah ayat awal menjelasakan bahwa orang-orang mu’min itu bertentangan dengan orang-orang kafir. Orang-orang  mu’min itu beruntung, sedang orang-orang kafir tidak beruntung.[8]

6.      Hubungan penutup surat terdahulu dengan awal uraian surat berikutnya
Penutup surat terdahulu misalnya Q.S.Al-hajj:77 dijelaskan dengan Q.S. Al-mukminun:1-11). Setiap surat yang dating kemudian merupakan penjelasan terperinci tentang masalah tertentu dari surat sebelumnya, sebagaimana berikut ini:
Firman Allah Q.S. Al-hajj:77:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãèŸ2ö$# (#rßàfó$#ur (#rßç6ôã$#ur öNä3­/u (#qè=yèøù$#ur uŽöyø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ) ÇÐÐÈ  
“… dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (Q.S. Al-hajj:77).

Firman Allah Q.S. Al- mukmiun:1-11:
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ   tûïÏ%©!$# öNèd Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd Ç`tã Èqøó¯=9$# šcqàÊ̍÷èãB ÇÌÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd Ío4qx.¨=Ï9 tbqè=Ïè»sù ÇÍÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÅ_rãàÿÏ9 tbqÝàÏÿ»ym ÇÎÈ   žwÎ) #n?tã öNÎgÅ_ºurør& ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNåkß]»yJ÷ƒr& öNåk¨XÎ*sù çŽöxî šúüÏBqè=tB ÇÏÈ   Ç`yJsù 4ÓxötGö/$# uä!#uur y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrߊ$yèø9$# ÇÐÈ   tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÏF»oY»tBL{ öNÏdÏôgtãur tbqããºu ÇÑÈ   tûïÏ%©!$#ur ö/ãf 4n?tã öNÍkÌEºuqn=|¹ tbqÝàÏù$ptä ÇÒÈ   y7Í´¯»s9'ré& ãNèd tbqèOͺuqø9$# ÇÊÉÈ   šúïÏ%©!$# tbqèO̍tƒ }¨÷ryŠöÏÿø9$# öNèd $pkŽÏù tbrà$Î#»yz ÇÊÊÈ  

“sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yamg khusyu, dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orng-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang nereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Q.S. Al-mukminun:1-11).

Kata (تُفْلِحُوْنَ) tuflikhuna bagian penutup  atau akhir surat Al-hajj dijelaskan dalam Q.S. Al-mukminin yaitu dengan adanya kata (أَفْلَحَ) aflakha. Jadi rincian “orang-orag yang beruntung” itu dijelaskan secara terperinci dalam Q.S. Al-mukminun:1-11.[9]


D.    AYAT-AYAT  YANG SULIT DI TEMUKAN MUNASABAHNYA

                Contoh ayat-ayat yang sulit ditemukan sisi munasabahnya terdapat pada surat  Al-Qiyamah:16 dan Al-Baqarah:189, sebagai berikut:
Ø  Surat  Al-qiyamah:16.
Ÿw õ8ÌhptéB ¾ÏmÎ/ y7tR$|¡Ï9 Ÿ@yf÷ètGÏ9 ÿ¾ÏmÎ/ ÇÊÏÈ  
“janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya”(Q.S. Al-qiyamah:16).

Alasannya, munasah antara awal dan akhir surat tersebut sulit di temukan karena surat itu secara keseluruhannya berbicara tentang hari kiamat, sehingga sebagian penganut  Rafidhah  menyangka bahwa ayat itu tidak termasuk dalam surat Al-qiyamah. Dalam as-shahih di jelaskan bahwa ayat itu di turunkan untuk mengomentari tindakan Nabi yang menggerakan lidah nya ketika menerima wahyu.
            Ada beberapa pendapat yang mencoba menyingkap munasabat ayat itu, di antaranya:
a)      Ketika Allah menuturkan perihal kiamat,sementara orang yang sembrono selalu melakukan suatu pekerjaan dengan tergesa-gesa. Di samping itu, adanya tuntutan salah satu pokok agama untuk bersegera melakukan perbuatan yang baik maka Allah mengingatkan Nabi bahwa dibalik tuntunan itu ada yang tidak harus dilakukan dengan terburu-buru yaitu dalam mendengar dan memahami wahyu. Dan  bahwasannya konsentrasi yang penuh dalam menghafal wahyu dapat mengesampingkan pemahaman terhadapnya. Allah lalu memerintahkan untuk tidak bergegas menghafalnya karena hafalannya sudah dijamin oleh- Nya dan hendaknya ia menyimak terlebih dahulu sampai wahyu yang hendak di turunkan itu usai. Setelah, uraian wahyu itu selesai (yakni, perihal kiamat), Allah kembali berbicara tentang manusia dengan menggunakan ungkapan:
žxx.(Al-qiyamah:20) yang merupakan ungkapan untuk menghardik. Seolah-olah Allah berfirman:                                            
بَلْ اَنْتُمْ يَا بَنِى ادَمَ لِكَوْنِكَمْ خَلَقْتَمْ مِنْ عَجْلٍ تَعْجِلَوْنَ فِى كُلِّ شِئٍ وَمِنْ ثَمَّ تَحِبُّوْنَ الْعَجِلَةَ.
“namun karena diciptakan dalam tempo  yang  cepat, engkau, wahai bani Adam, bergesa-gesa dalam menghadapi segala hal. Dari sanalah, nampaknya engkau lebih senang sesuatu yang nilainya cepat sirna (dunia)” (Al-qiyamah:20).

b)      Apabila pada awal surat Allah menggambarkan perihal jiwa manusia, maka pada ayat itu Allah  menggambarkan jiwa yang terpilih. Seolah-olah Allah berfirman:
هَذَا شَأْ نُ النُّفُوْسِ وَاَنْتَ يَا مَحَمَّدُنَفْسُكَ أَشْرَفُ النُّفُوْسِ فَلْتَأْ خُذْ بِأَكْمَلِ الآْحْوَالِ.
“itulah gambaran jiwa-jiwa manusia. Engkau, wahai Muhammad, jiwamu merupakan yang termulia. Oleh karena itu berperilakulah dengan perilaku yang paling sempurna” .[10]

Ø  Surat Al-baqarah:189.
* štRqè=t«ó¡o Ç`tã Ï'©#ÏdF{$# ( ö@è% }Ïd àMÏ%ºuqtB Ĩ$¨Y=Ï9 Ædkysø9$#ur 3 }§øŠs9ur ŽÉ9ø9$# br'Î/ (#qè?ù's? šVqãŠç6ø9$# `ÏB $ydÍqßgàß £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# Ç`tB 4s+¨?$# 3 (#qè?ù&ur šVqãç7ø9$# ô`ÏB $ygÎ/ºuqö/r& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÊÑÒÈ  
“mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Dan bukanlah kebaikan itu memasuki rumah dari belakangnya…” (Q.S. Al-baqarah:189).

Dipertanyakan, manakah keterkaitan antara bulan sabit dengan mendatangi rumah dari belakang? Jawabannya, ayat ini masuk ke dalam aturan istithrad (penjelasan lebih lanjut/ tambahan). Tatkala menjelaskan bahwa bulan sabit itu merupakan tanda-tanda waktu bagi pelaksanaan haji dan memang itulah yang terjadi, sebagaimana disinggung oleh sebab asbab nuzul-nya, Allah lalu menambah jawaban dari sesuatu yang ditanyakan. Hal seperti ketika Nabi ditanya tentang air laut. Jawaban Nabi adalah:
هُوَالطَّهْرُ مَا ؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
 “Airnya suci dan bangkainya halal”.[11]


E.     RELEVANSI ILMU MUNASABAH DENGAN TAFSIR AL-QUR’AN

            Ayat-ayat Al-qur’an telah tersusun sebaik-baiknya berdasarkan petunjuk Allah SWT sehingga pengertian tentang suatu ayat kurang dapat difahami begitu saja tanpa mempelajari ayat-ayat sebelumnya. Antara satu ayat dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya mempunyai hubungan yang erat dan kait mengait merupakan mata rantai yang sambung bersambung. Hal inilah yang disebut dengan istilah MUNASABAH AYAT.
            Jumhur ulama berpendapat bahwa “menjelaskan ayat dengan mencari Asbabun Nuzulnya adalah jalan yang kuat dalam memahami makna Al-qur’an. Munasabah ayat sangat membvantu dalam menerangkan makna yang terkandung dalam ayat. Rngkasnya Asbabun Nuzul sebagai pengetahuan yang di peroleh melalui riwayat hadis atau atsar dan munasabah ayat yang diperoleh melalui ijtihad. Munasabah ini sering pula disebut oleh sebagian ulama dengan siyaaqul ayat. [12]


BAB III
PENUTUP

v  KESIMPULAN
 Munasbah berarti muqorrobah atau kedekatan dan kemiripan.  munasabah menurut istilah adalah adanya kecocokan, kepantasan dan keserasian antara ayat dengan ayat atau surat degan surat, atau Munasabah adalah kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu dalam  Al-qur’an baik padak surat maupun pada ayat-ayatnya yang menghubungkan antara uraian yang satu dengan yang lainnya.
Munasabah dibagi menjadi  7 macam, yaitu:
1.      Antara surat dengan surat sebelumnya;
2.      Antara ayat dengan ayat;
3.      Kalimat demi kalimat dalam ayat;
4.      Penutup ayat  (fashilah) dengan kandungan ayatnya;
5.      Awal uraian surat dengan akhir uraiannya;
6.      Penutup surat terdahulu dengan awal uraian surat berikutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Syadali  Ahmad, Rofi’ Ahmad. 1997. Ulumul Qur’an 1. Bandung: Pustaka Setia.

Muhammad bin Alawi Al-maliki Al-hasni.1999. Mutiara Ilmu-ilmu Al-qur’an. Bandung: Pustaka Setia.

Budhardjo.2012. Pembahasan Ilmu-ilmu Al-qur’an. Yogyakarta: Lokus.


[1] Budihardjo, Pembahasan Ilmu-ilmu Al-qur’an, 2012, halm.39.
[2] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’, Ulumul Qur’an 1, 1997, halm. 168.
[3] Ibid; halm. 171.
[4] Pembahasan Ilmu-ilmu Al-qur’an, op.cit. halm. 40.
[5] Ibid, halm. 44.
[6] Ibid, halm. 45.
[7] Ibid, halm. 46.
[8] Ibid, halm. 47.
[9] Ibid, halm. 48.
[10] Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasni, Mutiara Ilmu-ilmu Al-qur’an, 1999, halm. 306, (penerjemah: Rosihon).
[11] Ibid, halm. 308.
[12] Ulumul  Qur’an 1, op. cit. halm.180.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar